Skena musik ekstrem Bandung kembali mendapat hantaman keras dari MOTORGRIND melalui single terbaru mereka, “SIMULASI TEMPUR”. Mengusung karakter grindcore yang brutal, cepat, dan penuh distorsi, rilisan ini menjadi luapan ekspresi tentang tekanan, konflik, kekacauan, serta kerasnya kehidupan yang terus menuntut manusia untuk bertahan.
“SIMULASI TEMPUR” hadir dengan komposisi agresif yang mengandalkan blast beat tanpa ampun, riff gitar yang tajam, distorsi kotor, serta vokal penuh amarah. Seluruh elemen tersebut berpadu menjadi serangan sonik yang intens, merepresentasikan situasi ketika kehidupan terasa seperti medan tempur yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Melalui single ini, MOTORGRIND tidak menawarkan kenyamanan ataupun kompromi. Musik menjadi medium untuk meluapkan energi, kegelisahan, dan kemarahan terhadap berbagai tekanan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Judul “SIMULASI TEMPUR” sendiri memberikan gambaran tentang kondisi ketika seseorang harus terus bersiap menghadapi benturan, bertahan di tengah kekacauan, dan menghadapi realitas yang tidak selalu berpihak.
Kini, MOTORGRIND diperkuat oleh formasi tiga personel, yaitu CONOT pada vokal, KUDIL pada gitar, dan OMO pada drum. Dengan formasi ini, MOTORGRIND terus membawa karakter grindcore yang lugas dan agresif, tanpa kehilangan esensi musik ekstrem yang menjadi identitas mereka.
Berasal dari Bandung, kota yang memiliki perjalanan panjang dalam perkembangan musik independen dan ekstrem di Indonesia, MOTORGRIND hadir membawa energi mentah yang menjadi ciri khas grindcore. “SIMULASI TEMPUR” menjadi representasi dari pendekatan musikal mereka: cepat, bising, brutal, dan tidak memberikan ruang untuk kompromi.
Bagi para pendengar musik ekstrem, single ini menawarkan pengalaman sonik yang intens sekaligus menjadi saluran ekspresi atas berbagai tekanan dan konflik yang kerap dihadapi dalam kehidupan. Tidak ada basa-basi, tidak ada kompromi—hanya ledakan distorsi, kecepatan, dan amarah yang disalurkan melalui musik.
SIMULASI TEMPUR
Single ini menegaskan ada sebuah serangan grindcore dari Bandung yang menegaskan satu hal: medan tempur tidak selalu berada di luar sana. Terkadang, pertempuran paling keras justru berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.