pleenplan Rilis EP Kedua “Begitu Seharusnya”, Merayakan Keikhlasan dan Jarak Lewat Musik Indie-Pop
Duo indie-pop asal Kota Madiun, pleenplan, kembali menghadirkan karya terbaru melalui EP kedua mereka yang bertajuk “Begitu Seharusnya”. Dirilis pada 30 April 2026, mini album berisi enam lagu ini menjadi ruang bagi pleenplan untuk mengangkat tema tentang cinta, jarak, kehilangan, keikhlasan, hingga proses menerima kenyataan.
Bagi pleenplan, musik bukan sekadar rangkaian nada dan lirik. Proyek yang digawangi oleh Harda Handika Nata sebagai drummer dan Onki Magadon sebagai gitaris sekaligus vokalis ini menjadikan musik sebagai medium untuk menerjemahkan riuhnya isi kepala menjadi cerita yang intim dan dekat dengan keseharian.
Dengan pendekatan aransemen yang minimalis namun tetap hangat, pleenplan mencoba menghadirkan musik yang dapat menemani pendengar dalam berbagai fase kehidupan, khususnya ketika seseorang sedang berhadapan dengan keraguan, kehilangan, dan keputusan untuk menerima sesuatu yang tidak bisa lagi dipaksakan.
“Begitu Seharusnya”, Kisah tentang Melepaskan dengan Ikhlas
Sebagai lagu utama sekaligus judul EP, “Begitu Seharusnya” menjadi pintu masuk menuju keseluruhan cerita yang dibangun pleenplan dalam rilisan terbarunya.
Lagu ini bercerita tentang sebuah kesadaran pahit ketika seseorang memutuskan untuk mundur demi melihat orang yang dicintainya bahagia. Ada keinginan untuk mempertahankan, tetapi pada akhirnya muncul kesadaran bahwa terkadang mencintai juga berarti memberikan ruang bagi seseorang untuk menemukan kebahagiaannya sendiri.
Kisah tersebut kemudian dibalut dengan melodi pop yang tenang dan menenangkan. Kontras antara tema lirik yang emosional dengan aransemen yang hangat menjadi salah satu kekuatan lagu “Begitu Seharusnya”.
Alih-alih menghadirkan kesedihan secara berlebihan, pleenplan justru memilih pendekatan yang lebih sederhana dan reflektif. Pendengar diajak untuk merasakan perihnya sebuah perpisahan sekaligus memahami bahwa tidak semua hubungan harus berakhir dengan seseorang tetap berada di sisi kita.
Enam Lagu yang Menjadi Diari Kehidupan
EP “Begitu Seharusnya” tidak berdiri sebagai kumpulan lagu yang terpisah. Keenam nomor di dalamnya saling terhubung dan terasa seperti potongan-potongan cerita dalam sebuah diari kehidupan.
Perjalanan emosional tersebut dimulai dari “Apapun Itu”, yang menggambarkan kepasrahan dan keputusan untuk menerima keadaan. Cerita kemudian bergerak menuju “Semoga Selamat Sampai Selatan”, yang membawa tema tentang penyesalan dan ego diri.
Sementara itu, “Garis Sejajar” berbicara tentang jarak dan penerimaan terhadap takdir. Lagu ini menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan emosional EP karena menggambarkan kondisi ketika dua orang mungkin masih memiliki perasaan, tetapi pada akhirnya harus berjalan di jalur masing-masing.
Keseluruhan lagu tersebut memperlihatkan karakter pleenplan sebagai duo indie-pop yang tidak berusaha membuat cerita cinta menjadi terlalu rumit. Sebaliknya, mereka mengambil pengalaman yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, kemudian mengubahnya menjadi lagu yang personal.
“Mangan Soto”, Penutup Santai dari Sebuah Perjalanan Emosional
Menariknya, setelah membawa pendengar melewati berbagai tema emosional, pleenplan menutup EP “Begitu Seharusnya” dengan sebuah bonus track berjudul “Mangan Soto”.
Berbeda dari lagu-lagu sebelumnya yang banyak berbicara tentang perasaan dan hubungan, “Mangan Soto” hadir dengan nuansa yang lebih jenaka dan kasual. Lagu berbahasa Jawa tersebut menjadi semacam jeda setelah perjalanan emosional yang cukup panjang.
Kehadiran bonus track ini juga memberikan perspektif sederhana bahwa seberat apa pun persoalan hati, kehidupan tetap harus berjalan. Setelah menghadapi kehilangan, penyesalan, dan proses menerima keadaan, pada akhirnya manusia tetap harus kembali menjalani rutinitas dan kesehariannya.
Kontras tersebut justru membuat EP ini terasa lebih manusiawi. Tidak semua cerita harus berakhir dengan kesedihan. Ada saatnya seseorang cukup menerima keadaan, kemudian melanjutkan hidup.
